Category Archives: Cerita dari Danang

Lebaran Bersama Babe

Ini adalah lebaran pertamaku tidak berkumpul dengan keluarga besar di Kebumen. Tahun-tahun sebelumnya, aku selalu merasakan euforia kemenangan ini bersama saudara-saudara jauh di rumah eyang. Tapi, tahun ini aku sholat Ied dan merayakan hari besar ini di Pati, bersama babe, mami, kakak, adek, dan keponakanku. Tak lain tak bukan adalah, untuk menjaga babe yang masih berbaring tegar berselimutkan doa dan harapan dari banyak orang agar lekas sembuh.

Tengok kilas balik beberapa bulan lalu, tentang awal mula terjadinya kondisi yang kini menerpaku dan keluargaku. Kala itu, pada IMLEK tahun 2012 ini, sekitar bulan Januari yang notabene adalah hari liburku sehingga aku menyempatkan diri untuk pulang. Pulangku kala itu dikarenakan libur dan beberapa keinginan untuk menikmati pangan buatan dewi tercantik yang terlahir untuk menjagaku, yakni ibu atau biasa aku panggil mami. Namun, apalah daya bahwa liburku harus kuhabiskan di Rumah Sakit.

Baca lebih lanjut

Iklan

3 Komentar

Filed under Cerita dari Danang

Haruskah Kurindu Ramadhan Lalu?

Ramadhan datang, disambut dengan sejuta euforia. Kembang api, jajanan pasar, pengajian yang kian semarak, dan kenaikan harga sembako yang irasional. Pun demikian denganku, menyambut dengan bahagia, semangat menempuh jarak kos-masjid kampus dengan motor, persediaan strategi sahur-buka puasa, serta semangat untuk tetap berolahraga dalam rangka menjaga kokohnya sistem imun.

Tapi, adakah yang berbeda?

1. Babe yang rajin sholat Maghrib barjamaah di masjid kini terbaring di kasur, dengan kondisinya yang masih kaku dengan segala keterbatasan.

2. Babe yang dulu selalu memberi nasehat-nasehat, kini tak bisa bersuara. Kami sekeluarga, sungguh rindu dengan lelucon yang selalu mewarnai suasana dengan tawa.

3. Babe yang sebelumnya belum pernah menangis, kini sering sekali menangis tanpa emosi, hanya sebatas meneteskan air mata.

4. Babe yang dulu selalu menanyakan “mau buka pakai apa?” kini hanya bisa diam ketika kami masukkan jus makanan melalui selang.

5. Babe yang dulu sering menyeduh teh untuk berbuka, kini bahkan tidak bisa mengecapnya lagi.

6. Babe yang dulu sangat gembira ketika menyambut cucu barunya – Nabhan-, kini tak bisa berekspresi ketika mendengar kakak keduaku akan melahirkan, dan kakak pertamaku sedang mengandung lagi.

Dan aku sungguh merindukan Ramadhan sekeluarga dalam kondisi sehat. Namun demikian, tiada cobaan yang melebihi batas kemampuan umat-Nya. Aku sangat meyakini bahwa pasti banyak hikmah di balik ini semua.

Ramadhan lalu, aku merindukanmu. Tapi, bagaimana bisa aku melangkah ke depan jika aku tak beranjak dari masa laluku? Segala sesuatu, telah ada alurnya; mengapa harus khawatir dan bersedih.

Tinggalkan komentar

Filed under Cerita dari Danang

Babe Adalah Semangatku

Bukanlah sebuah basa-basi, bukan pula sebuah luapan kesedihan yang memuncak.

Siapalah memang yang tidak sedih, suatu cobaan datang menghampiri di sela kebahagiaan yang terus mengalir sebagai berkah yang tak kunjung putus. Dan cobaan itulah kini juga menjadi berkah, sebagai alat penguat bagi kita yang belum kuat untuk menghadapi cobaan ke depan.

Aku kini telah dewasa. Tak lain, aku juga sama dengan mereka, berasal dari satu sel sperma dan sel telur yang kemudian telah disetting untuk dipertemukan dan akhirnya bergabung. Terolah dalam rahim, kemudian. Dilahirkan dalam tangisan kuat tanda aku siap menghadapi kehidupan yang kata orang tidak semudah rumus-rumus rumit matematika. Kecilku disuap dengan hasil keringat babe tanpa disertai keluhan. Akhirnya aku membesar, sesuai takdirku. Dan inilah aku, manusia yang tak lepas dari dosa dan terkadang berbalut prestasi. Terkadang.

Tentu, bayi mana yang bisa makan tanpa keberadaan orang tua?

Dan ketika prestasiku terlahir sebagai keinginan untuk berbalas budi, akankah itu cukup?

Babe kini terbaring di atas ranjang, terhubung dengan segala peralatan medis yang bahkan belum aku pelajari. Nafas yang tidak muncul spontan, perlu bantuan ventilator. Tekanan darah yang tidak jua stabil. Mata yang redup dan sayu. Kondisi kesadaran yang tidak selalu memberi respon terhadap stimulasi apapun. Dan suhu tubuh yang mengingatkanku ketika babe menjagaku di Malang, saat aku terkena demam berdarah.

Sebelumnya, babe hanya menangis. Memberi tahu apa yang dia rasakan dengan gerakan tangan dan tetesan air mata. Semangat babe terus berkobar, hingga dia dipindahkan ke sebuah ruang penuh perawat, HDN (High Dependency Nursing). Tak lama, babe membutuhkan ventilator dan akhirnya dipindahkan ke ICU.

Pintaku kini, babe mendapatkan apa yang terbaik baginya. Jikalau Tuhan menghendaki, sembuhkanlah dalam raga yang sehat untuk berkumpul lagi bersama kita. Jika memang ada hal lain yang menurut Tuhan lebih baik untuk babe, semoga itu yang terbaik untuk semuanya.

Babe, adalah semangatku. Semangat yang tak kunjung padam untuk melakukan kebaikan.

6 Komentar

Filed under Cerita dari Danang

Filosofi Kasur : Anda Teman?

Selama berjuta sekon, masaku habis dalam mimpi. Aku bermimpi di atas pelukan hangat kasur yang membelaiku setiap aku lelah.

Walau demikian, aku tidak pernah tahu apa isi kasur hingga suatu periode, aku membongkarnya. Merusak bagian luarnya dan mendapati isinya.
Baca lebih lanjut

2 Komentar

Filed under Cerita dari Danang, Life

Berbagi Energi Positif di Atas Panggung!

Teori Multitalenta Danang I menyatakan, “setiap manusia yang terlahir merupakan multitalenta”.

Multitalenta aku bagi menjadi dua, yakni multitalenta yang terfokus dan multitalenta yang tidak terfokus. Dan, aku mencintai keduanya.
Yang dimaksud dengan multilatenta yang terfokus adalah talenta-talenta yang ada saling berdekatan dalam sebuah dunia yang sama, sedangkan yang dimaksud dengan multitalenta yang tidak terfokus adalah talenta-talenta yang ada tidak berada dalam dunia yang sama.

Berikut ini adalah beberapa sahabat Danang yang kemudian menjadi artis dan mereka merupakan bagian dari orang-orang multitalenta terfokus. Mereka adalah penari, mereka adalah penyanyi, dan tentunya mereka adalah penghibur, penyalur energi positif melalui apa yang mereka tampilkan.
Baca lebih lanjut

Tinggalkan komentar

Filed under Cerita dari Danang

Sekolah Tanggap Bencana

Pada beberapa bulan lalu saya sempat disibukkan dengan sebuah kegiatan inspiratif yang melibatkan warga desa dari suatu daerah di Bantul. Kegiatan ini adalah Program Kreatifitas Mahasiswa : Sekolah Tanggap Bencana, Sebuah Pelatihan Mandiri Bantuan Hidup Dasar Karang Taruna dan Pembuatan Posko Tanggap Bencana.


Baca lebih lanjut

8 Komentar

Filed under Cerita dari Danang, Kedokteran

Melukis Sejarah Bersama Tutorial Dua-Lapan

Dalam perjuanganku menjadi dokter, aku menemui kurcaci-kurcaci mungil dari negeri antah-berantah. Aku menemui 9 kurcaci selain diriku. Mereka tertulis dalam sejarahku, dan sejarahku akan mengantarkanku ke masa depan.

Kami dipertemukan dalam sebuah kejadian tak terduga dan tak diharapkan. Kata tak diharapkan ini bukan bermaksud apapun, karena kami pada awalnya memang bukan orang yang saling mengenal. Tiba-tiba saja seseorang dengan nomer absen satu (baca : Amelina Nurrika) berkesempatan untuk mencari kami dalam daftar yang ia pegang. Dia menemui absen dua (baca : Danang Setia Budi) dan 8 teman lainnya (M Fikru Rizal, Hotman X-Tinus, Wiwid Santiko, Ilsya Asti, Claudya Oktaviani, Devita Rahmawati, Sonia Rahma, dan Ingrid Padmasari). Kemudian kami berkumpul, berusaha mengenal satu sama lain.
Baca lebih lanjut

1 Komentar

Filed under Cerita dari Danang