Lebaran Bersama Babe

Ini adalah lebaran pertamaku tidak berkumpul dengan keluarga besar di Kebumen. Tahun-tahun sebelumnya, aku selalu merasakan euforia kemenangan ini bersama saudara-saudara jauh di rumah eyang. Tapi, tahun ini aku sholat Ied dan merayakan hari besar ini di Pati, bersama babe, mami, kakak, adek, dan keponakanku. Tak lain tak bukan adalah, untuk menjaga babe yang masih berbaring tegar berselimutkan doa dan harapan dari banyak orang agar lekas sembuh.

Tengok kilas balik beberapa bulan lalu, tentang awal mula terjadinya kondisi yang kini menerpaku dan keluargaku. Kala itu, pada IMLEK tahun 2012 ini, sekitar bulan Januari yang notabene adalah hari liburku sehingga aku menyempatkan diri untuk pulang. Pulangku kala itu dikarenakan libur dan beberapa keinginan untuk menikmati pangan buatan dewi tercantik yang terlahir untuk menjagaku, yakni ibu atau biasa aku panggil mami. Namun, apalah daya bahwa liburku harus kuhabiskan di Rumah Sakit.

Awalnya, babe, merasakan hal yang tidak enak seusai sholat Jumat. Tangan tremor dan kaki yang kesemutan membuat babe memeriksakan diri ke dokter saraf, dan dengan tegas dinyatakan bahwa hal itu adalah gejala stroke atau stroke ringan. Jumat malam aku sampai dan mendengar kabar tak menyenangkan itu, betapa beratnya hati. Dan hari Sabtu yang cerah, kami mengunjungi dokter saraf terbaik di daerah kami, di salah satu rumah sakit di Kudus. Sengaja, kami memutuskan untuk rawat jalan untuk menuntaskan segala penyakit sehingga tidak ada lagi resiko yang bertengger pada fisik tangguh babe.

Tiga hari liburku, tiga hari pula aku berada di rumah sakit. Aku harus berpamitan untuk melanjutkan studiku di Jogja. Kondisi babe kala itu masih tangguh, masih kuat, dan masih kokoh. Babe tampak seperti orang normal dengan tekanan darah yang sedikit di atas rata-rata. Tapi, selebihnya tidak ada kecurigaan akan terjadi morbiditas atau bertambah parahnya penyakit. Bahkan kala itu babe masih memberiku saran dalam perjalanan ke Jogja.

Februari minggu kedua, aku mendapat telepon dari mami. Mami ingin aku pulang. Dia mengatakan aku harus mengurus e-KTP. Aku memang sedang libur semester, tapi aku berusaha menundanya karena ada beberapa hal yang aku urus, salah satunya adalah PKMku. Namun, mami bersikeras dengan segala alasannya untuk membawaku pulang. Satu hal yang aku sedikit bingungkan adalah, suara mami tampak habis menangis, tapi mami mengaku bahwa dia sedang radang tenggorokan.

Aku pulang. Aku membawa gudeg kendil dengan harap mereka akan menyukainya. Aku pulang dengan tujuan membuat e-KTP dan tanpa perasaan apapun.

Sesampaiku di rumah, kala itu Jumat siang, suasana tidak seperti yang aku bayangkan. Mami menangis. Adekku bermata merah, dan berkantung. Sepi. Tidak ada kakak. Lalu mami seketika memintaku membantu berkemas. Dan, sembari berkemas beliau menjelaskan apa yang sedang terjadi. Babe stroke, dan dirawat di Kudus.

Usut punya usut, awalnya adalah ketika hari Kamis sebelum aku pulang aku meminta mami mengirimkan pulsa. Aku kirim SMS. Dan, mami tidak bisa membuka SMSku. Mamu kesulitan hingga meminta tolong babe yang sedang tiduran di kasur bersama cucunya. Dari situlah, mami dikejutkan dengan adanya muntahan di bawah kasur dari babe. Dan suara babe siang itu sudah tidak terbaca, sudah tidak lagi jelas.

Aku, mami, dan adekku serta cucu atau keponakanku (Nabhan) berangkat ke Kudus dengan diantar oleh tetanggaku. Selama perjalanan, mami hanya menangis. Aku tak tahu kondisi babe, sehingga aku hanya berharap dia baik-baik saja. Sesampainya di rumah sakit, aku menangis tak tahan. Kakakku yang melihatku menangis seketika membawaku keluar. Dia mengatakan, babe tak butuh tangis kita. Babe butuh semangat kita. Bagaimana perasaan babe jika dia melihat anak dan istrinya tidak mendukung dia?

Aku butuh waktu lama berdiam dan menangis di luar ruangan. Beberapa kali aku memberanikan diri masuk, tapi akhirnya gagal. Selalu ada tangis setelah melihat babe. Namun, pada akhirnya aku bisa. Aku bisa menyembunyikan sedihku di hadapan babe. Babe yang seketika baru melihatku pun menangis, dan meminta aku berada di sisinya. Tentu, beliau menggunakan bahasa tubuh. Kata-kata yang terucap tak lagi bisa diartikan.

Kondisi babe kali itu, disertai selang infus, selang makanan, selang kateter kencing. Untuk berkomunikasi, kakak menggunakan kertas yang bertuliskan huruf A, B, C, …, Z untuk ditunjuk babe hingga menjadi suatu kata. Bahkan, cara demikian pun tidak jelas. Beberapa gerakan tangan babe sudah tidak bisa diarahkan. Tangan kanan tak bekerja, hanya tangan kiri yang lagi sudah tidak kokoh. Telinga kiri tak bisa mendengar. Maka, kami membisikkan apapun melalui telinga kanan dengan teriakan, kencang sekali.

Malam itu, babe memberi isyarat. Dia menunjuk huruf K..U..R..A..N..A..J..A..R, dan dia memperagakan suster. Jadi mungkin yang dia maksud, susternya kurangajar. Dia menunjukkan bertapa kurang ajarnya suster karena suster memasukkan selang makanan melalui hidung. Mungkin menurut babe, selang itu tidak nyaman. Beberapa kali, ketika aku tertidur babe melepas selangnya. Dan beberapa kali pula, kami memasang kembali. Entah, berapa kali nurse calling yang kami lakukan dalam sehari. Mulai dari pasang selang, sedot lender di saluran nafas, dan lainnya. Hingga kala itu, suster menyarankan untuk mengikat tangan babe. Dan diikatlah tangan babe hingga kondisi babe melemah, dan situasi menyarankan untuk memindahkan babe ke ruang HDN atau High Denstity Nurse untuk mendapatkan perawatan lebih intensif. Kami pindah ruangan. Babe dimasukkan ke ruang HDN, dan kami berada di luar. Beberapa waktu setelah masuk HDN, kami diberitahu bahwa babe tidak bisa bernafas spontan sehingga membutuhkan ventilator. Dan hal ini, berarti babe harus dipindahkan ke ICU.

Kondisi babe kala itu di ICU, tidak sadar. Tidak bisa berbicara. Penuh selang. Menyedihkan.

Kami sekeluarga hanya bisa berdoa di luar ruang dengan penuh harap.

Sekalinya dipanggil untuk menemui dokter, berita butuklah yang kami terima. Babe dinyatakan terkena hepatitis dan juga penumoni. Karena resisten, maka diperlukan antibiotic yang baru. Dan waktu itu dokter memberikan suatu rekomendasi obat dengan harga yang fantastis. Apapun kami terima rekomendasi dari dokter, karena kami hanya berharap babe bisa segera sembuh.

Kondisi babe sudah tidak karuan. Reflek pupil yang memburuk, tingkat kesadaran yang turun, suhu yang terus meningkat, tekanan darah yang tak kunjung stabil, ekstremitas yang bengkak, kencing yang berwarna sangat gelap, dan lainnya.

Berhari-hari kami menanti di luar sana. Menanti suatu kabar yang menggembirakan. Namun tak jua datang. Satu demi satu pasien ICU sembuh, dan keluarga mereka meninggalkan kami yang masih menjaga ruang tunggu keluarga ICU. Ada pula yang meninggal seiring waktu. Dan itu menambah kesedihan dan ketakutan kami.

Akhirnya, liburanku habis. Aku tak lagi bisa menemani kakak di ruang tunggu ICU. Aku tak lagi bisa menemui babe di waktu berkunjung. Aku harus segera kembali ke Jogja. Dan kondisi saat itu masih sama, tidak sadar dengan segala ketidakteraturan tanda vital.

Berbulan-bulan babe dirawat di ICU hingga ada suatu keputusan dari keluargaku yang mengejutkan. Babe harus dipindahkan. Hal ini menyangkut biaya dan prognosisnya. Mungkin dirawat di ICU tidak akan banyak mengubah prognosisnya. Sehingga, kami memutuskan memindahkan babe ke ICU Rumah Sakit Bhayangkara sehingga kami tak lagi perlu keluar dana perawatan, hanya membeli obat-obat khusus saja. Bayangkan, biaya perawatan di ruang ICU sebelumnya, dalam dua hari mencapai belasan juta. Dan tagihan itu terus berjalan setiap hari. Setiap hari kami harus menyandingkan dana 6-11 juta selama dua bulan lebih. Dan kondisi babe pun tak banyak berubah. Itulah yang membuat kami memutuskan memindahkan babe ke ICU Rumah Sakit Bhayangkara.

Babe dirawat di rumah sakit Bhayangkara selama 3bulan lebih. Adapun perubahan yang babe tunjukkan adalah, babe sudah bisa bernafas spontan. Tapi, masih saja belum segera sadar. Mami membawa beberapa pengobatan alternative, namun hasilnya juga masih sama. Bahkan kala itu ada seorang dokter mengatakan bahwa, jikalau babe nanti sudah bisa bernafas spontan dan sadar, maka dia hanya bisa berbaring di kasur, sehingga dibutuhkan perawat pribadi.

Tak apalah, setidaknya sudah ada perubahan yang ditunjukkan babe. Babe sudah bisa bernafas setelah lima bulan kami rawat di ICU. Sungguh perubahan yang sangat lama. Padahal, penyakitnya memburuk dengan sangat cepat. Membuat babe lumpuh hanya dalam 5 hari saja.

Akhirnya setelah berkonsultasi dengan dokter, kami memutuskan merawat babe di rumah. Kami menyediakan kamar berAC untuk babe dengan beberapa peralatan, yaitu tabung dan selang oksigen yang mengalirkan 2-5 L/m oksigen untuk babe bernafas, kateter urin, mechanical suction untuk menyedot lendir, dan beberapa peralatan perawatan seperti masker, sarung tangan, underpad, popok, penggerus obat, dan lainnya. Kami sekarang menggunakan seorang perawat yang merawat babe dari jam 6 hingga jam 5 sore. Selebihnya, dari keluargalah yang menjaga babe.

Dan selama liburan lebaranku ini, akulah yang menjaga babe. Aku tidak tidur semalaman, dan mengganti jam biologisku untuk bersiaga jikalau babe membutuhkan bantuan. Jam tidurku pun berubah, dari setelah subuh hingga sebelum dzuhur.

Kondisi babe kini, Alhamdulillah sudah ada perubahan walau sangat pelan. Beberapa kali terdengar babe menelan ludahnya, walaupun makanan masih kami masukkan melalui selang.

Tadi pagi, ketika kami usai sholat ied dan berniat sungkeman lebaran, babe tampak meneteskan air mata. Entah itu air mata karena debu, atau air mata karena babe juga merasakan emosi.

Babe, lebaran kali ini memang sungguh beda. Hampa rasanya menyambut kemenangan tanpa nasehat-nasehatmu. Hambar rasanya, opor ayam tanpa candamu. Aku merindukanmu sehat kembali. Walau demikian, aku ikhlas dengan kondisi ini. Babe, Selamat Hari Raya Idul Fitri, maafkan aku anakmu yang tak berbakti ini. Bahkan, ketika kamu meminta aku menjadi dokter, aku tak sungguh-sungguh memperebutkan nilai. Aku meminta maaf kepadamu atas pencapaianku yang tak semaksimal yang mungkin babe inginkan.

Iklan

3 Komentar

Filed under Cerita dari Danang

3 responses to “Lebaran Bersama Babe

  1. Sisca Ucche

    kak danang, aku nulis ini masih sambil nangis, sabar yaaa kak danang harus kuat! :”) I can feel what you feel. Balik lagi ke kak danang yang lucu menggemaskan ya! :”D

  2. yuvi

    tulisan yg sangat ikhlas 🙂 keren

  3. keren……jd, karna babe om akhirnya jd dokter? om danang.. aq adl slh satu dr sekian org yg termotivasi dg jln hdp om…keren…AKU PenGen JADI DOKTER…………….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s