Aku Melaju dengan Seorang Tersangka Kejahatan

Suatu ketika aku memutuskan pulang ke Pati dari perantauanku sejenak di Jogjakarta.
Dengan tiket yang sudah kupesan aku menduduki sebuah kursi tepat di belakang supir travel bermobil Kijang Innova. Sebelumnya telah duduk manis seorang gadis (mungkin) berbalut kerudung merah jambu di sebelah kiriku. Dalam mobil yang berisi tiga orang itu kami melaju menuju sebuah tempat dimana supir memiliki kewajiban membawakan tas-tas penumpang lain yang berat, kali ini daerah Condong Catur. Roda berputar kencang, dengan arahan yang sedikit tak terarah dari sang supir. Lama, kami tak jua menemukan rumah dengan ciri-ciri yang diberikan.

Akhirnya kami menemukan sebuah rumah bagus tidak terlalu megah dengan cat hitam dan sesosok orang agak botak keluar dari rumah itu. Dengan sopannya dia menyapa sang supir travel. Dia masuk ke dalam rumah dan tak lama kemudian dia keluar dengan membopong tas ransel dan tas pinggang. Kemudian dia menduduki bangku paling depan.

Sang supir bilang, kita langsung akan menuju Solo. Solo adalah kota di antara perjalanan kami dari Jogja menuju Pati. Jadi kusimpulkan saja bahwa hanya ada tiga penumpang untuk kali ini.

Selama perjalanan aku mendengarkan merdunya Christina Aguilera dalam selimut nada yang ia ciptakan sendiri. Begitu pula dengan keindahan alunan yang dibuat oleh Haley Reinhart, Carrie Underwood, dan pejuang nada lainnya. Dan akhirnya, aku tertidur.

Tak lama aku bertemu dengan peri tidur, aku terbangun. Aku lihat beberapa spanduk beralamatkan Solo atau Surakarta. Ternyata memang, ini sudah sampai di Solo. Kami menjemput satu lagi penumpang di suatu daerah. Sebelum menjemput aku sempat mendengarkan perbincangan mencurigakan oleh penumpang berwajah arab yang duduk di sebelah supir. Dia sedang menelepon rekannya (mungkin) dan membicarakan bisnis. Aku sangat tertarik dengan bisnis, karena bisnis akan membuat aku menjadi dokter yang tidak perlu menarik kocek pasien dalam-dalam. Aku mendengarkan perbincangannya dengan seksama.

Pada awalnya dia menjelaskan apa usahanya. Dia ingin membuat sebuah usaha perumahan. Dia menceritakannya di telepon layaknya tak ada penumpang lain, keras sekali. Dalam perjalanannya mendirikan usaha tersebut, maka muncullah beberapa kendala, salah satunya adalah birokrasi untuk mendapatkan sebuah perijinan. Bapak R memiliki sebuah kenalan yang mau membantunya mendapatkan izin. Setelah salah satu izin dari sekian banyak izin diperoleh, ada sebuah masalah lagi. Salah satu syarat mendirikan sebuah perumahan adalah kepemilikan sebuah PT atau Perseroan Terbatas, dan bapak dengan inisial R itu tidak memilikinya. Kebetulan layaknya sinetron, kenalan tadi mempunyai PT kosong. Entahlah apa itu PT kosong, tapi menurutku itu adalah PT dengan tanpa usaha yang dijalankan, hanya berupa sebuah nama PT yang sudah terdaftarkan dan belum atau sudah mengakhiri usahanya. Satu izin di dapat, dan kemudian Bapak R memutuskan untuk membeli PT kosong dengan harga 10 juta. DP dibayar 50% dan pengurusan jual-beli PT mulai dilaksanakan.

Kemudian sang kenalan menawarkan sebuah bisnis. Dia mengajukan sebuah proposal untuk pengajuan semua izin dan daftar harga yang sepatutnya dibayarkan. Menurut bapak R, angka yang tertera dalam proposal tidak rasional sehingga diputuskan tidak akan menggunakan jasa kenalannya itu. Akhirnya dia mencoba mengurusnya sendiri. Dia menggunakan nama PT yang sedang dibelinya walau belum rampung urusan jual-belinya. Dalam pengurusannya, dia membutuhkan stampel perusahaan. Karena serah terima PT belum terjadi, maka agar birokrasi di pemerintah segera selesai, akhirnya diputuskan untuk membuat stampel baru. Sebuah izin didapatkan dengan stampel baru tersebut. Eh tak ada hujan selebat badai, sang kenalan membatalkan secara sepihak jual-beli PT dengan DP 50% itu. Kemudian bapak R mendapat gertakan bahwa dia harus menggunakan jasa kenalannya itu dalam segala pengurusan izin, atau dia akan dilaporkan ke polisi karena pemalsuan stampel.

Karena merasa bahwa angka dalam proposal tidak rasional, maka bapak R tidak setuju. Akhirnya muncullah sebuah ulasan untuk mengubah semua angka di proposal, menjadi sebuah angka yang rasional. Namun sang kenalan tidak berkenan dan melaporkan bapak R ke polisi dengan tuduhan memalsukan stampel. Selain itu dia juga mengancam 5 hal, yakni:
1. Bapak R memalsukan stampel perusahaan
2. Bapak R tidak memberi kesempatan untuk sang kenalan memberikan sejumlah uang ‘pelancar’ ke pemda
dan tiga lainnya yang tidak terekam dalam memori saya.

Kemudian bapak R menjelaskan dalam teleponnya, bahwa kini statusnya adalah tersangka tindakan pidana. Selama perjalanan ke Pati, bapak R bertelepon dan berBBM ria dengan orang lain. Dalam teleponnya, selalu membahas tentang status ke-tersangka-annya.

Akhirnya kami sudah sampai kota tujuan, Pati. Orang pertama yang diantar adalah Bapak R, karena kebetulan lokasinya mudah. Dia keluar mobil, mengambil tasnya di bagasi. Saatnya membayar travel ke sang supir. Kemudian lama sekali sang supir tidak kembali menyetir, karena masih berurusan dengan bapak R. Aku melihatnya, karena aku pikir pasti ada sesuatu yang salah. Bapak R memegang dompet, tapi tidak segera mengeluarkan koceknya untuk menyelesaikan masalah administrasi tersebut.
kemudian dari dalam tasnya, dikeluarkanlah sebuah charger nokia. Dia memberikan itu kepada sang supir sambil berbincang layaknya pebisnis. Aku tidak dapat mendengar pembicaraan mereka, terhalang kaca gelap di sebelah kakak berkerudung merah jambu. Sambil bernego, kemudian sang supir menunjuk dompet. Dan bapak R mengeluarkan 50ribu. Aku sedikit heran, bukankah harga travel 75ribu?

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Cerita dari Danang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s