Korupsi Sudah Mendarah Daging? Mari Kita Panggil Dokter Bedah!

Kata orang, korupsi sudah mendarah daging di bangsa kita, Indonesia.

Korupsi saya definisikan sebagai suatu tindakan yang menguntungkan suatu pihak baik itu pribadi ataupun kelompok tanpa mempertimbangkan kelompok lain. Beberapa orang berpendapat, susah menghilangkan korupsi dari bangsa ini, karena korupsi pasti selalu menempatkan diri pada setiap tindakan kita. Bahkan, ada beberapa yang berpendapat bahwa korupsi sudah merupakan budaya bangsa kita.

Mari kita tengok pada beberapa kejadian di Indonesia berikut ini!

Alif, Apakah Dirimu Bersalah?

Alif, seorang pelajar SD, yang mengemukakan ketidakbenaran pada sekolahnya yang memaksa dirinya dan beberapa siswa lain memberikan jawaban saat ujian nasional kini harus meninggalkan Surabaya dan menuju Gresik demi ketenangan batinnya. Alif dengan segala kepolosannya mengakui adanya sebuah kesalahan kepada orang tuanya. Dari situlah muncul sebuah usaha pembenaran yang dilakukan oleh orangtua Alif. Dengan nilai dan norma yang selama ini merupakan hasil didikan keluarga, orang tua Alif merasa menyesal putra tercintanya diperlakukan seperti itu.

Saya kutip dari Metro TV, guru Alif menyatakan, “Alif, gunakan kepintaran dan kecerdasanmu untuk membantu teman-temanmu di Ujian Nasional nanti! Jika kamu tidak mau memberi, MAKA KAMU TIDAK AKAN SUKSES NANTINYA!”
Seorang anak SD, ketika guru berkata, maka dia akan meng-iya-kan karena paradigma yang berlaku adalah setiap teori yang muncul dari lisan sang guru merupakan sebuah kebenaran mutlak, sekalipun kita tahu itu tidak baik.

Namun apa yang terjadi setelah Alif dan keluarga mencari jalan pembenaran? Warga sekitar unjuk rasa untuk mengusir Alif dari rumah, bahkan ada yang berniat untuk membakar rumah jika mereka tidak segera pergi.
Ada apa ini? Suatu kebenaran dipersalahkan, dan KORUPSI DIAJARKAN oleh orang yang didewakan dan selalu dipuja kebenarannya (baca: guru) sejak kecil.

Itu tadi adalah salah satu kasus korupsi yang terjadi diantara kita. Dengan ini kita dapat melihat bahwa pendidikan yang seharusnya mengutamakan nilai kejujuran dan moral, meninggalkan nilai itu jauh-jauh demi nilai lain yang dianggap lebih penting, yakni predikat.

Aku Korupsi Di Jalan Raya?

Korupsi Jalan Raya? Apa maksudnya?
Coba renungkan sejenak. Apa arti lampu merah? Berhenti. Hijau? Jalan. Kalau kuning? Beberapa pasti mendefinisikan sebagai hati-hati, namun beberapa mendefinisikan sebagai “cepeeeeeeeeetaaaaan!”
Tidakkah kita sadar, ketika kuning menyala, maka bagian lain akan segera hijau?

Korupsi yang terjadi adalah, saat kuning menyala kita menyegerakan jalan. Bahkan terkadang, saat merah sudah menggantikan kuning, kita tetap bersegera memberi percepatan terdahsyat semampu kita pada kendaraan agar kita segera melewati per-tiga/empat/lima/dst-an. Padahal di bagian jalan lain akan segera hijau, dan ketika mereka melihat angka 3, sebagian dari mereka sudah berjalan. Terjadilah tumpukan waktu yang dapat mengakibatkan hal fatal; kecelakaan. Hijau berjalan, dan merah mengencangkan. Atau, ketika memang masih hijau tapi sisi lain ada yang karena kepentingannya mereka melanggar lalu lintas, ataupun sebaliknya. Hal ini akan membahayakan orang lain, tidak hanya para pelaku koruptor saja.

Tidakkah kalian tahu bahwa otak bagian prefrontal manusia adalah otak yang mengatur nilai dan norma? Ketika kecelakaan terjadi, dan orang itu meninggal, maka wassalam. Dikubur, selesai. Tapi, jika orang yang kecelakaan itu hidup dengan gangguan otak pada bagian prefrontal, maka dia akan menjadi orang yang sangat menyebalkan. Hidupnya tanpa aturan. Kalaupun orang tersebut memiliki aturan, maka aturannya adalah meniadakan aturan. Itulah bahaya dari kecelakaan yang sebenarnya, yakni memunculkan bahaya lain bagi dunia.

Bagaimana menghilangkan korupsi?

Ibarat jika korupsi itu adalah kanker yang dengan cepat menyebar (karena korupsi sangat menggiurkan), maka cara paling efektif adalah mencegahnya. Pengobatan terkadang tidak efektif dalam penyembuhan korupsi. Pencegahan yang saya maksud adalah, pertebal iman dan perteguh nilai dan norma.

Ketika kita mencegah, maka suatu ketika akan datang masa dimana tidak akan ada lagi korupsi, sekalipun angkatan di atas kita masih melakukan korupsi. Ibarat kata, kita bagaikan rokok. Batangnya adalah orang-orang yang korupsi, mereka akan semakin lama semakin sedikit karena kematian atau waktu, dan akan hilang pada akhirnya jika tidak ada angkatan baru yang menjadi bagian dari rokok tersebut.

Jika kita meghancurkan koruptor-koruptor tanpa melakukan pencegahan, maka secara siklus dapat dipastikan korupsi tidak akan hilang, hanya akan beregenerasi saja, mengganti jabatan dan nama-nama yang ada.
Pencegahan adalah bermula dari dalam hati dalam jiwa. Keteguhan dan kegigihan harus dipertanggungjawabkan. Ketika ada sebuah usaha bersama, maka akan tercipta keyakinan baru bahwa kita tidak sendiri. Dan dari ketidak sendirian inilah akan muncul gerakan bersama membentuk angkatan baru yang mengubah paradigma bahwa sejak dini kita harus menerapkan bebas korupsi.

Kembali ke definisi awal bahwa ketika korupsi, maka ada satu pihak yang diuntungkan secara berlebih dan pasti ada yang dirugikan. Bagaimana jika tidak ada korupsi? Maka tidak akan ada yang dirugikan sehingga, semua mendapat keuntungan yang secara adil menyeluruh kepada setiap insan.

Kokohkan nilai dan norma untuk Indonesia yang lebih baik 🙂

*note:
Saya menulis ini bukan berarti saya tidak pernah melakukannya, tapi saya berusaha mengajak teman-teman dan diri saya sendiri untuk menuju jalan yang menurut saya baik 😉

Iklan

1 Komentar

Filed under Cerita dari Danang, Life, Pendidikan

One response to “Korupsi Sudah Mendarah Daging? Mari Kita Panggil Dokter Bedah!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s