Pandanglah Bumi dari Angkasa!

Lihatlah kedua kasus di bawah ini.

Kasus I.

Seorang guru bertanya pada muridnya, dia meminta untuk mengisi kalimat rumpang dengan kata yang paling tepat.



Salah seorang yang paling cerdas menjawab: “ dipisahkan !” dengan nada lantang dan yakin.
Namun, ada seorang anak lain yang menjawab : “ dihubungkan” dengan nada lemah, tidak berdaya seolah takut salah.

Pertanyaannya, siapakah diantara mereka berdua yang paling benar?

Kasus II.

Seorang nenek ingin pergi ke Bali, dari daerah asalnya di Banyuwangi (ujung timur Pulau Jawa). Kemudian nenek itu berkonsultasi pada cucu-cucunya.

Pertanyaannya, apakah mungkin naik bus antar dua pulau yang dipisahkan perairan?

Cobalah lihat dari sisi mereka, dan rasakan, apakah ini masih merupakan bagian dari kewajaran atau tidak

Kasus I dan Kasus II menggambarkan ada atau tidaknya keterangan. Satu keterangan saja dapat mengubah pemikiran kita, sedikit lebih jauh ke depan.

Pada kasus I, kita tidak bisa menyalahkan salah satu jawaban, karena sang anak cerdas memandang itu sebagai keberadaannya di darat. Anak kedua itu juga tidak dapat disalahkan, karena anak kedua itu memandang bahwa ada kapal yang dapat mengantarkan mereka, dan kapal itu dihantarkan dengan adanya air yang menghubungkan kedua pulau.
Pada kasus II, ada sebuah keterangan jelas yaitu bus. Jelas, jika diasumsikan bahwa tidak ada jembatan yang menghubungkan Bali dan Jawa, maka kata “dipisahkan” adalah tepat. Tidak tepat ketika kita dikatakan, “Nenek ingin pergi ke Bali naik bus, sedangkan Pulau Jawa dan Pulau Bali dihubungkan oleh perairan.”

Hal yang dapat diambil dari kedua kasus adalah bagaimana kita memandang sesuatu dan bagaimana bisa terbentuk banyak pemikiran. Ketika tidak ada sebuah keterangan yang dapat pula berupa kondisi atau konteks yang jelas, maka asumsinya seperti kasus I, dapat terbentuk pola pikir yang luas yang dapat pula muncul ide-ide yang saling bertolak belakang dan ini wajar. Tidak boleh kita menjudge bahwa setiap pola pikir yang diutarakan orang lain yang berbeda adalah salah. Cobalah lihat dari sisi mereka, dan rasakan, apakah ini masih merupakan bagian dari kewajaran atau tidak. Sedangkan ketika konteks sudah berbicara, maka haruslah ada penyempitan atau eliminasi pola pikir yang tidak sesuai. Kita harus tahu kapan kita menempatkan diri, sesuai konteks. Jika konteks belum mengerucut, maka akan timbul banyak kemungkinan pemikiran, hingga konteks itu menjadi suatu titik.

Maka, agar kita tidak salah menganalogikan diri kita, sedang berada di kasus I atau kasus II, analisalah konteks yang ada di sekitar kita. Analisalah dengan bertanya, atau mengikuti alur yang ada. Baca algoritma yang muncul, dan terapkan prinsip induksi matematika jika mungkin, atau gunakan cara kontradiksi untuk mencari jalan keluar yang benar!

Hargailah pendapat orang lain, dan kenalilah konteks yang ada di tempat kita berada! 🙂

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Life

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s