Doa Seorang Pembersih Lantai dan Pembersih Hati !

Suatu ketika, saya mengurus keuangan program kami, Sekolah Tanggap Bencana. Saya dan Darus mengurus keungan ini di bagian akademik. Dan kala itu, orang yang bisa membantu kami sedang rapat yang diperkirakan selesai pada pukul 15.00. Padahal, sekarang sedang pukul 14.00. Kami memutuskan menuju lantai 3 ruangan ini, dimana kami bisa mengakses internet gratis dengan cepat di sini.

Saya bertemu dengan Ibu, Murdaningsih, seorang pembersih lantai, yang kala itu lengkap memakai seragam dan membawa alat kebersihan serta bekalnya, yakni teh pahit dan beberapa makanan yang dimasukkannya dalam plastik.
Kemudian Ibu itu dengan ramah menyapa, “Selamat siang, Mas!”
Saya pun berusaha lebih ramah dan menjawab salam Ibu, “Siang, Ibu!”

Tidak lama, ibu Ningsih -begitu Ibu Murdaningsih disapa- mendekat ke saya, dan dia berusaha mencari kotak air mineral yang ada di bawah meja.
“Mencari apa, Bu?”
“Ini lho mas, ada air mineral, kalau mau diminum saja! Saya ga minum air putih mas, kan saya darah rendah. Ini sisa-sisa rapat kemaren!” ucap Ibu Ningsih sambil berusaha membuka kardus air mineral yang masih rapat itu.
“Iya, Bu makasih! Tapi itu masih rapat, jangan dibuka, Bu!”

Kemudian sang ibu pergi, menuju sebuah ruang yang ada di pojok. Dia kembali dan membawakan saya tiga gelas air mineral.
“Maaf mas, tadi itu, apa itu, anunya, sedotannya enggak ada!”
“Enggak apa-apa, Bu!”

Kemudian ibu itu bercerita panjang lebar. Saya merasa tertarik berbincang dengan Ibu Ningsih. Lalu, saya tanya tentang penerus Ibu Ningsih, atau putra-putrinya.
Ibu Ningsih menjelaskan bahwa, dia memiliki 2 putra. Yang pertama, adalah sesosok wanita yang kini menjadi bagian dari staff akademik, tempat ia biasa membersihkan lantai. Dia bercerita, “Kita kerja satu gedung, Mas! Tapi dia bekerja kantoran, dan Ibunya inilah yang membersihkan gedungnya!” Putra pertamanya itu kini sedang merampungkan S1nya yang dijalani setiap malam, dan pada siang hari dia membantu keluarganya dengan bekerja sebagai staff di bagian akademik.
Putra keduanya, Rahmat, seorang pemuda yang kini duduk di bangku SMA kelas 1. Rahmat, disekolah-sepak-bola-kan oleh sang ibu sejak kelas 4 SD. Ibu Ningsih berkata bahwa Rahmat harus mencari kesibukan sejak kecil, agar dia tidak memiliki waktu luang yang dapat digunakan bersama orang-orang yang tidak benar. “Saya melarang putra saya merokok, minum-minum, dan hal-hal buruk lainnya dengan cara memberinya kesibukan. Toh keluarga kami suka sepak bola, menjadikan Rahmat sebagai pemain sepak bola juga bukan hal buruk. buktinya dia sekarang berprestasi dengan terpilihnya dia menjadi keeper gawang tim Daerah Istimewa Jogjakarta. Walaupun kami perlu modal yang lebih, tapi kami senang putra kami tidak minum, merokok, atau yang lainnya.”

Kemudian Ibu Ningsih memberi saya saran dan doa.
“Mas, mas itu diberi karunia Allah sangat besar. Mas diberi wajah yang tampan dan kecerdasan. Mas ingat, jangan tergoda dengan syaitan. Syaitan adalah godaan umum, kalau mas setampan ini, godaan utamanya adalah wanita. Jangan mas, mas harus menyelesaikan dulu kuliah mas! nanti kalau sudah jadi dokter, insyaAllah mas akan mendapat jodoh yang terbaik. Allah hanya akan memberi 1 jodoh terbaik buat, Mas! Sekarang mas belajar dulu, kejar target! Jika mas ingin jadi dokter, maka kejar itu!”

“Saya doakan mas bisa sukses! Mas diberi Allah sehat, cerdas, dan sabar serta lancar! Semoga mas bisa sukses ke depannya! Nanti kalau cari wanita, carilah bukan hanya dari wajahnya, tapi hatinya!”

Lalu Ibu Ningsih pamit, dan dia melanjutkan membersihkan lantai di lantai 2 dan seterusnya.

Semoga Ibu Ningsih dapat membawa putra-putrinya ke dalam kebahagiaan sejati, bukan hanya kemenangan dunia, tapi juga kemenangan akhirat. Semoga juga, doa ibu tentang saya terkabul. InsyaAllah saya akan lebih rajin belajar dan berdoa, agar kelak saya dapat berguna bagi agama, nusa, dan bangsa, serta dunia! Amin 😀

Iklan

1 Komentar

Filed under Cerita dari Danang, Life

One response to “Doa Seorang Pembersih Lantai dan Pembersih Hati !

  1. aku juga pernah disapa sama ibu murdaningsih itu 😀 beliau sangat ramah sekali trus nyapanya kalau ke cewek-cewek pakai kata ‘nona’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s