Ingin Buang Waktu? Tutorial Saja!

Sudah sekian lama saya menjadi bagian dari calon pejuang bangsa di bidang kesehatan, tapi saya belum juga merasa saya mendapat banyak ilmu. Bukan materi yang salah, dan saya juga tidak bisa menyalahkan kemampuan saya. Mungkin, ini karena saya belum menemukan cara belajar efektif yang mengakibatkan saya memahami banyak ilmu.

Saya, sangat suka melihat orang yang menerangkan, mengajari temannya jika kesulitan. Saya juga senang ketika teman saya bertanya pada saya soal matematika ketika SMA dulu, tentu, dengan cara yang baik. Berbagi ilmu dengan menjelaskan adalah sebuah proses pembelajaran yang akan membuat orang lain paham, menurut saya. Hal ini dikarenakan, ada satu pihak yang merasa tertarik dengan ilmu yang belum ia ketahui, dan ada pihak lain yang mencoba membuka pemikirannya dengan menjelaskan sesuai dengan bahasa yang ia susun sedemikian mereka menimbulkan koneksi pikiran dan masuklah sang ilmu dengan metoda copy-paste, bukan cut-paste.

Ada beberapa hal yang penting di sini, yang pertama, ada kemauan dari sang penanya untuk mengetahui apa yang ia ingin ketahui. Kedua dan yang terpenting -menurut saya- , adalah ada ketertarikan dan kepercayaan dari sang penanya kepada penjawab sehingga setiap perkataan bisa dengan mudah diterima. Gaya bahasa dan susunan tingkah non verbal juga sangat mempengaruhi proses masuknya ilmu ke setiap pemahaman manusia.

Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada menerapkan sistem belajar dengan tutorial. Dibentuklah kelompok-kelompok kecil, beranggotakan sekitar 10 orang. Lalu, diadakan dua kali tutorial. Tutorial pertama, berdurasi 2 jam, meliputi STEP 1 yakni mendiskusikan terminologi yang tidak kita mengerti yang terdapat dalam skenario. STEP 2, yakni menyusun pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan skenario (biasanya meliputi semua judul lecture di dalam satu minggu tersebut). STEP 3, yaitu brainstorming, menyetorkan ilmu yang pernah kita tahu tentang pertanyaan di STEP 2. STEP 4, yakni membahas STEP 3 dengan ilmu yang lebih dalam. Kemudian ada STEP 5, yakni menentukan LO atau Learning Objectives atau PR yang harus dicari lagi). Lalu pada hari berikutnya (selisih tiga hari dari tutorial pertama), diadakan STEP 7, yakni membahas hasil STEP 6. STEP 6 adalah belajar mandiri, mencari jawaban dari STEP 5.

Sudah 6 bulan saya belajar di FK, dan memahami betapa kurang efektifnya sistem belajar tutorial. berikut adalah analisa yang dapat saya berikan.

1. Tutorial memaksa kita berbicara dengan semua orang, termasuk yang belum kita kenal dan yang tidak kita sukai. Tipe setiap orang berbeda, ada beberapa insan yang pada dasarnya suka berbicara walau apa yang diomongkannya tidak penting, ada juga yang hanya berbicara ketika dia merasa tidak ada lagi yang dapat berbicara, atau bahkan ada orang yang tidak suka berbicara sekalipun dia tahu dan tidak ada orang lain yang tahu. Selain itu, terkadang berbicara dengan orang yang tidak kita sukai akan menurukan mood kita yang akan berdampak pada hilangnya gairah kita untuk berbicara.

2. Tutorial memaksa kita mendengarkan setiap perkataan orang lain, termasuk yang belum kita kenal dan yang tidak kita sukai. Lagi-lagi, harus membawa fakta psikologis, bahwa tiap orang berbeda. banyak tipe dalam belajar. Ada orang yang setiap mendengarkan akan diserap, namun ada pula orang yang sangat memilah-milah perkataan orang (saya salah satunya). Tipe kedua ini akan membuat tutorial sangat tidak efektif. Hal ini dikarenakan tidak ada kepercayaan kepada pembicara, pasalnya pembicara tidak memiliki status pengakuan seperti ijazah sarjana atau apapun itu (akan lain ceritanya ketika kita tutorial dengan dosen atau dokter yang sudah berpengalaman). Hal inilah yang membuat orang akan merasa waktunya terbuang di dalam tutorial.

3. Hal ketiga yang memaksa saya untuk tidak suka dengan tutorial adalah ketidak teraturan dalam berbicara. Beberapa orang sangat suka berbicara, memotong pembicaraan satu sama lain, atau bahkan membuat coversation pribadi dengan orang lain. Selain itu, terkadang beberapa mahasiswa tidak efektif dalam menggunakan waktu, yakni dengan repetisi perkataan sebelumnya dengan bahasa masing-masing. (Bayangkan saja jika ilmu yang diulang sepanjang 5 menit, dan setiap orang repetisi, maka waktu yang dihabiskan ada sekitar 50 menit.)

4. Materi yang diberikan dalam tutorial terkadang terlalu banyak, dan ini merusak konsentrasi dari tutorial itu sendiri. Bayangkan saja, seorang dosen berpengalaman membutuhkan waktu 50 menit untuk menyampaikan satu judul ilmu. Kita, seorang mahasiswa belum genap setahun di’paksa’ menyampaikan beberapa bab ilmu (biasanya 5-7 judul lecture) dalam waktu 4 jam (masih dikurang telatnya dosen atau mahasiswa yang bersangkutan, pembukaan dan mekanisme tutorial seven jump yang sangat menguras waktu).

5. Beberapa tutor tidak bisa menjadi tutor yang ‘baik’. Beberapa tutor mencampuri diskusi kami, bahkan beberapanya suka memotong. Saya sering kali merasa apa yang dibantah sang tutor tidak ada hubungannya dengan apa yang teman saya sampaikan (tutor yang sok tau, belum selesai sudah dipotong). Ada juga tutor yang membuat kami sebal, karena feedback yang diberikan (berupa award nilai keaktifan) tidak sesuai dengan apa yang telah kami lakukan dan prediksikan.

Tadi adalah analisa saya tentang kekurangan tutorial, akibatnya terkadang kita tidak bisa meng-cover semua materi. Ujung-ujungnya, belajar mandiri dengan tutorial non formal dengan teman yang mereka pilih (menurut saya lebih efektif).
Saya akui memang tutorial memiliki beberapa keuntungan, namun dengan beberapa hal yang saya alami (tidak perlu saya sebutkan) saya memilih untuk meniadakan tutorial. Saya lebih memilih tutorial non formal dengan rekan yang saya pilih sendiri, karena itu akan lebih efektif. πŸ™‚

Iklan

12 Komentar

Filed under Cerita dari Danang, Kedokteran, Pendidikan

12 responses to “Ingin Buang Waktu? Tutorial Saja!

  1. Juned

    Dalam dunia kerja, qt ga bisa memilih harus berbicara pd siapa, qt akan dihadapkan pd semua jenis org (rekan kerja & pasien pd khususnya), apalg sbg seorg dokter qt dituntut utk pandai berbicara, khususnya terkait edukasi pasien. Tutorial mnrt sy bkn ttg slg berdebat ato berargumen, tp melatih qt utk memiliki pola pikir bagaimana mencari sumber informasi yg akurat ketika qt dihadapkan pd suatu kasus tertentu, tdk hanya “ikut ajaran senior” yg lbh byk terjadi pd sistem pengajaran “teacher centered”. Ttg materi tutorial, sebetulnya tdk tll byk, mhs hny kurg bs merangkum mana yg dirasa konsep penting utk dan mana yg bs dipelajari scara mandiri, kebanyakan membahas hal2 yg tll luas (itulah slh1 peran tutor sbg guider). Memang konsep ideal tutorial sulit dilaksanakan sesuai teori krn melibatkan berbagai pihak, tp sukses ato tidaknya tutorial tetap sgt tergtg pd mhs itu sndr. Ttg tutor, ya ga ngelak sih, kdg emg ada yg kurg paham sih. Hehe.. Itu mnrt sy lho..

  2. mfikru

    Haha, sante wae nang..
    Emang, saat kita ditunutut untuk berbicara sementara kita(saya) tidak tahu apa2 yang terjadi adalah kesoktahuan.

  3. Ping-balik: Ingin Buang Waktu? Tutorial Saja! Β« Irrationals are Real - Cari Judul Skripsi, Makalah, Laporan

  4. mfikru

    Lha pancen yo kudune ngono lah.. lha piye meneh. Kita harus bisa menyikapi situasi. Ini (hanya) sebuah tutorial. Kalo sama pasien ya gak boleh.. hahahaha

  5. rika

    Ahiy danang hahaha yah we learn a lot from tutorial ko tanpa kita sadari, complaining is oke, but then don’t do it too much unless we don’t wanna get the advantages πŸ˜€

  6. ilsya

    semua punya hal positif dan negative nya, πŸ™‚

    • iya, tapi -menurut saya- lebih sedikit manfaatnya, ada cara lain yang lebih efektif. πŸ˜‰
      Tutorial itu bagus. Sistem lecture (teacher centered) juga bagus. Tapi kalau dicampur? tidak semua yang bagus jika dicampur akan menghasilkan sesuatu yang bagus lho. hehe.. (ngutip dari Nisa di FB) hehe

  7. Pilih aja cara terbaik yang menurutmu paling nyaman juga. Apa pun caranya, yang penting hasil akhirnya sama kan…

    πŸ™‚ Salam,

    Mochammad
    http://mochammad4s.wordpress.com
    http://piguranyapakuban.deviantart.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s