Jogja vs Bandung ! Dan Jogja HARUS menjadi Pemenangnya !

Ikastara?

Ikastara adalah sebutan untuk sebuah organisasi yang anggotanya merupakan alumni SMA Taruna Nusantara Magelang. Ikastara yang merupakan singkatan dari Ikatan Alumni SMA Taruna Nusantara ini tersebar di seluruh Indonesia, dan beberapa negara lain seperti Jerman, Belanda, Singapore, dan lain sebagainya. Pada umumnya kepengurusan ikastara ini bersifat terpusat, yakni dengan pengurus utama yang disebut dengan PP Ikastara atau Pengurus Pusat Ikastara.
Namun, dalam pelaksanaannya, berhubung jumlah alumni yang lebih dari 4000 dan tersebar di seluruh Indonesia dan beberapa negara lain, ikastara ini seolah mengelompok sesuai domisili namun tetap bertujuan sama, yakni memajukan bangsa Indonesia dari segala lini kehidupan. Ikastara Bandung menamakan diri mereka sebagai Ikastara PVJ, Ikastara Singapore menyebut diri mereka sebagai Ikastara 65, dan lain sebagainya.
Sampai saat ini, ikastara terbesar yang ada adalah di kota-kota besar seperti Jogja, Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Namun, kekompakan Ikastara PVJ Bandung selalu menjadi perhatian. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dan ikatan keluarga yang sangat erat membuat iri ikastara lainnya.

Apa yang membuat ikastara PVJ sangat akur?

Beberapa analisa yang dapat saya tuliskan di sini adalah benar-benar murni pemikiran pribadi saya seorang. Saya melihat bahwa akurnya tiap insan ikastara PVJ adalah dikarenakan lokasi ITB yang tidak seluas university lainnya sehingga kompleks mereka belajar berdekatan yang menyebabkan mereka sering bertemu. Selain itu, jumlah yang masuk di ITB cukup banyak dibanding universitas lainnya seperti UGM dan UI. Hal ini ditambah beberapa diantara mereka menggunakan rumah kontrakan untuk ditinggali bersama, selain untuk menghemat biaya juga untuk mempererat tali persaudaraan di antara mereka dan sebagai tempat kumpul bagi alumni-alumni lain yang tinggal di lain tempat.

Paradigma Ikastara Jogja

Ikastara Jogja sebenarnya juga tidak kalah kompaknya, hanya saja tidak terlalu tampak. Hal ini disebabkan oleh menyebarnya alumni di Jogja, karena kampus UGM sendiri luas dan tidak memungkinkan untuk sesering mungkin bertemu. Dan lagi hawa belajar di UGM yang notabene terletak di kota pelajar juga masih terasa, sehingga hasrat untuk belajar selalu ada dan menyita waktu.

Sebuah Kisah yang Diharapkan Mampu Memberikan Perubahan

Rabu, 16 Juni 2010, mahasiswa baru UGM yang terdiri dari mantan peserta tes PBS dan PBUB melakukan dinas bersama. Dinas ke Jogja ini pada dasarnya bertujuan untuk mengukur jas almamater UGM dan mengambil surat undangan untuk orang tua. Namun berhubung waktu yang tersisa sangat banyak, maka dipakailah waktu itu untuk nonton dan jalang bareng.
Perjalanan Magelang-Jogja menggunakan 3 buah mobil yang diisi oleh belasan orang. Selama perjalanan, saya berada satu mobil dengan Nurdysa Diliana Putri, Stella Advenna, Ifani Amalia, dan Traheka Erdyas. Di mobil itu pula, Nurdysa atau yang sering dipanggil Caca bercerita dengan kesalnya tentang seorang temannya yang dinilai pelit olehnya. Caca juga berharap agar teman-temannya yang lain, khususnya calon ikastara Jogja angkatan delapan belas tidak ada yang sepelit teman yang diceritakan tersebut. Ketidakpelitan ini diharapkan mampu membuat ikastara Jogja pada nantinya kompak, dan menjadikan satu sama lain sebagai saudara sendiri.
Pada sebuah kesempatan, beberapa di antara kami bercengkerama. M Fadhel Rahman, Esa Pratama Putra, Stella Advenna, Nurdysa Diliana, dan saya berbincang dibawah pekatnya kegelapan malam, disinari lampu kuning dari kendaraan-kendaraan yang melintasi jalan depan Empire XXI. Di situ muncullah sebuah pernyataan yang lebih serius dari sebelumnya, yakni bahwa Ikastara Jogja harus lebih kompak dari tahun-tahun sebelumnya. Bahkan sebisa mungkin tiap minggu mengadakan acara.
Seperti sebelumnya telah dibahas melalui facebook, bahwa kontrakan Arief Syahbudi, Ghaza Monthy Amos, dan Reynaldo Krissancha akan dijadikan tempat berkumpul bagi ikastara Jogja angkatan delapan belas, kali ini ditekankan kembali melalui perbincangan-perbincangan di depan Togamas itu. Caca juga mengatakan bahwa, jika dia sudah dapat rumah, dia akan sesering mungkin masak dan mengadakan acara.
Selain membahas bagaimana kita bisa kompak, hal yang dibahas lagi adalah keharusan kita sebagai ikastara jogja untuk menjaga satu sama lain, termasuk menjaga teman kita dari aliran-aliran agama yang ekstreme. Bahkan Fadhel menyarankan agar tidak mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan. “Agama itu mending sendiri, kalau temen maen itu mending rame-rame.” katanya.

Semoga ikastara Jogja mampu sekompak mungkin dalam mewujudkan tujuannya, turut membangun Bangsa dan Negara Indonesia! 😉

Iklan

1 Komentar

Filed under Cerita dari Danang

One response to “Jogja vs Bandung ! Dan Jogja HARUS menjadi Pemenangnya !

  1. Ping-balik: Mie SEHATI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s