Jaya Atmosphere

Dalam sebuah perjalanan saya di antara masa yang menegangkan, saya mengganggap kesepakatan dengan diri saya di masa lampau berjalan tidak sesuai harapan, namun berharga dan tidak merugikan, bahkan melegakan. Kekecewaan akan sesuatu yang tidak seharusnya menjadi bagian dari hidup yang sangat pahit yang kala itu ingin saya hindari dengan kabur dan loncat dari pagar dunia itu, apalagi hiburan di luar sana memang indah.

Apa yang dahulu terjadi?

Kecil dulu, seorang anggota pasukan bergaul dengan saya. Pergaulan itu didasari rasa cinta oleh ilmu. Dia, adalah makhluk yang menginspirasikan saya tentang surga yang berapi di awal, namun setelah melalui pintunya akan ada rahasia besar di sana.

Semasa muda, saya diperbolehkan mendapat golden ticket untuk memasuki kawasan api panas namun indah itu. Sedikit keraguan, saya meyakinkan diri menginjakkan kaki dan berusaha mengindahkannya lagi dengan mengalungi diri dengan apapun yang bisa dikalungkan serta dengan membopong sejenis tongkat yang keemasan. Saya senang, bangga, dan berusaha menghebohkan diri dengan sejuta gerakan.

Salam hangat, kecupan, dan ketukan-ketukan berirama membuat saya terharu akan nilai kekeluargaan, namun hanya sesaat. Masa di mana saya hanya menghabiskan waktu dengan bergulat dengan piringan panas dan air bersoda berlalu setelahnya, jauh lebih lama. Saat itu, hati saya tak lapang, tak mampu menerima perubahan dengan cepat, bagaikan kegagalan iterative method yang dikarenakan perubahan gradien yang terlalu besar pada sebuah kurva apalagi ditambah ketidakadilan dan berlakunya demokrasi yang tidak nyata.
Saya bercengkerama dengan hati, berusaha tenang tapi tak bisa, dan akhirnya muncul sebual ide dan hasrat buruk, pergi dari dunia ini, karena pintu ajaib itu hanya khayal belaka.

Namun, ketika itu muncul pula pahlawan kesiangan, “Jangan, Nak! Banyak yang butuh kau!”
Ada pula tuan-tuan berkumis, “Ada benang, pita, tali rafia, bahkan tali tambang jika kau tetap di sana! Namun, akan kau temui koin-koin indah jika keluar sana, dan hanya koin.”
Dalam pertimbangan dengan Tuhan, akhirnya diputuskanlah sebuah keputusan yang saat itu hanya penenang diri. “Saya tetap di sini”

Sejak keputusan itu tertancap, banyak jiwa yang tergugah hati untuk membenahi segala kecacatan yang ada bersama. Namun, sekarang ada yang lebih penting lagi, yaitu, “Mampukah jiwa-jiwa itu menarik tali tambang yang sebenarnya menyengaja mendekatkan diri ke kami dengan cara tidak mengecewakan mereka?”

Dan di awal kami buktikan bahwa kami mampu, seterusnya kami akan berjuang dengan bantuan dari Kalian! Jaya Atmosphere!

Iklan

4 Komentar

Filed under Cerita dari Danang

4 responses to “Jaya Atmosphere

  1. Suci Khairunnisa Nabbila

    Analogi ‘tuan-tuan berkumisnya’ menggelitik, nang. haha.

  2. Wao, semuanya bermajas… Aku gak ngerti artinya.. haha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s