Belajar di Pasar Tradisional

Berikut adalah pandangan saya tentang nilai-nilai yang dapat kita ambil sebagai bahan belajar kita dari kegiatan di pasar tradisional sesuai dengan apa yang saya lihat sendiri saat mengantar Ibu ke pasar. Nilai-nilai ini dimohon untuk tidak disangkal, namun pandanglah pernyataan-pernyataan berikut dengan pandangan positif dan mari kita ambil nilai positifnya.

1. Di pasar tradisional, saya melihat barang-barang unik yang termanfaatkan alangkah awetnya. Barang ini seperti gabus bekas televisi dan lain sebagainya sebagai tempat ikan, tempat sayuran, dan lain sebagainya. Selain itu, ada juga barang-barang lain yang mereka buat sendiri untuk membantu menutup warung seperti kail, dan barang-barang lain yang tidak dapat saya sebutkan karena saya tidak tahu namanya. Selain barang-barang unik tersebut, hal yang dapat kita pelajari sebaik-baiknya adalah penggunaan barang-barang rusak yang dibenahi sehingga berfungsi kembali. Suatu ketika saya melihat rak-rak atau wadah-wadah yang sudah sobek, namun tetap digunakan dengan mengikatkan dengan tali rafia. Ada juga yang menggunakan kain-kain bekas untuk celemek (penutup baju) agar baju utama mereka tidak kotor.

2. Di pasar tradisional saya juga melihat tawar-menawar yang sengit antara sang penjual dan pembeli yang pada akhirnya menemukan sebuah kesepakatan. Dari sini kita dapat belajar bahwa mereka sangat menghargai uang sekalipun seratus rupiah. Jadi, alangkah baiknya kita tidak menyia-nyiakan uang sekecil apapun. Semisal memang kita tidak suka dengan uang receh atau uang pecahan kecil, setidaknya kita bisa mengumpulkannya dan menukarkan ke bank jika sudah terkumpul banyak. Jikalau masih malas untuk menukarkan ke bank, kita bisa memberikan kepada masjid mungkin, atau pembantu kita bahkan. Jadi, manfaatkanlah uang sekecil apapun.

3. Selain dua di atas, pelajaran yang patut saya teladani adalah kehidupan sosial di sana. Kita tahu bahwa tawar-menawar terjadi sangat sengit. Namun, setelah kesepakatan itu terbentuk, mereka, baik pedagang dan penjual menunjukkan ekspresi gembira dan tidak ada rasa kesal atau rasa benci sama sekali. Lain dengan kita, semisal kita tidak suka dengan orang, TERKADANG kita tidak menyelesaikannya dengan membuat sebuah kesepakatan, melainkan dengan menjauhi orang itu dan membencinya.

4. Pelajaran terakhir yang saya dapat dari pasar adalah kejujuran. Saat itu, Ibu saya menawar dan telah disepakati harganya, kalau tidak salah 33 ribu. Lalu Ibu mengeluarkan uang 50 ribu. Sambil meletakkan barang belanjaannya, Ibu menerima uang kembalian, tanpa dihitung dan langsung dimasukkan ke kantong. Saat di rumah, uang kembaliannya pas. Dan hal ini tidak terjadi hanya sekali, bahkan setiap kali ke pasar. Jadi, berbuat jujur itu tidak merugikan, sangat tidak merugikan bahkan dapat meningkatkan hubungan sesama. Jadi, bertindaklah jujur! Terutama para pegawai pajak. Upss..hehe

Sekali lagi, tolong jangan disangkal, karena memang mudah disangkal. Namun, pandanglah ini secara positif untuk bahan pembelajaran kita! Okay? ;p

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Life

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s